1/30/2011

Yngwie Malmsteen

Yngwie Malmsteen merupakan pelopor yang melahirkan seluruh gitaris shredder yang kami tampilkan di website ini. Setelah Eddie Van Halen (Van Halen) pertama kali membawakan tembang “Eruption” pada tahun 1978 yang memperkenalkan teknik “two handed tapping”, Yngwie meluncurkan album klasik baroque shred debutnya “Rising Force” yang mengegerkan komunitas gitar rock, menciptakan standar baru untuk kecepatan & keahlian dalam bermain. Warna “Neo-Classical” yang di bawahkan Yngwie adalah berdasarkan struktur komposisi dari J.S Bach (1685-1750) dan Niccolo Paganini (1782-1840).
Setelah itu muncul para gitaris shredder yang menghasilkan sekian banyak album yang sukses. Hampir setiap minggu muncul gitaris baru yang mengklaim dirinya sebagai gitaris baru yang paling cepat di dunia. Sebagai contoh: Paul Gilbert, Marty Friedman, Jason Becker, Richie Kotzen, Vinnie Moore, Tony Macalpine, Greg Howe, dll. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Yngwie merupakan pahlawan gitar yang patut diacungi jempol.
Pernikahan ayah Yngwie (seorang kapten tentara) dan ibunya (Rigmor – seniman) diakhiri dengan penceraian tidak lama setelah Yngwie lahir. Di samping itu Yngwie juga memiliki seorang kakak perempuan bernama Ann Louise dan kakak lelaki Bjorn. Yngwie terlahir sebagai anak bungsu yang liar, tidak bisa diatur dan ceria.
Pada awalnya Yngwie mencoba untuk mempelajari piano dan trumpet tetapi ia tidak dapat menguasai alat musik tersebut. Acoustic guitar (gitar bolong) yang dibeli oleh ibunya pada waktu dia berusia 5 tahun juga tidak disentuh Yngwie dan dibiarkan bergelantung di dinding.
Sampai akhirnya pada tgl 18 September 1970, Yngwie melihat sebuah acara spesial mengenai meninggalnya Jimi Hendrix. Di situ Yngwie yang masih 17 tahun tsb menyaksikan bagaimana Jimi Hendrix menghasilkan bunyi feedback guitar dan membakar gitarnya di depan penonton. Pada hari wafatnya Jimi Hendrix tsb lahirlah permainan gitar Yngwie.
Yngwie yang penasaran tersebut kemudian membeli sebuah Fender Stratocaster murah, mencoba memainkan tembangnya Deep Purple dan menghabiskan banyak waktu untuk mengetahui rahasia dari alat instrumen dan musiknya sendiri. Kekaguman Yngwie terhadap Ritchie Blackmore (gitaris Deep Purple) yang dipengaruhi oleh musik klasik dan kekaguman terhadap kakak perempuannya yang sering memainkan komposisi Bach, Vivaldi, Beethoven, dan Mozart, memberikan ide kepada Yngwie untuk menggabungkan musik klasik tersebut dengan musik rock. Yngwie terus bermain seharian penuh sampai tidurpun dia masih tetap bersama gitarnya.

Pada usia 10 tahun, Yngwie menggunakan nama kecil dari ibunya “Malmsteen”, mengfokuskan seluruh energi dia dan berhenti bersekolah. Di sekolah Yngwie dikenal sebagai pembuat onar dan sering berantem, tetapi pintar dalam pelajaran bahasa Inggris dan seni. Ibunya yang menyadari bakat musiknya yang unik, mengizinkan Yngwie tinggal di rumah dengan rekaman dan gitarnya. Setelah menyaksikan violinis Gideon Kremer membawakan komposisi Paganini: 24 Caprices di televisi, Yngwie akhirnya mengetahui bagaimana cara mengawinkan musik klasik dengan skill permainan dan karismanya.

Yngwie dan beberapa temannya merekam 3 lagu demo dan dikirim ke studio rekaman CBS Swedia, tetapi rekaman tersebut tidak pernah digubris atau diedarkan. Oleh karena frustasinya, Yngwie menyadari bahwa dia harus meninggalkan Swedia dan mulai mengirimkan demo rekaman dia ke berbagai studio rekaman di luar negeri. Salah satu dari demo tape Yngwie ternyata jatuh ke tangan konstributor Guitar Player dan pemilik Shrapnel Records: Mike Varney. Akhirnya Yngwie mendapat undangan ke Los Angeles untuk bergabung dengan band terbaru Shrapnel: “Steeler” dan seterusnya yang disebut sebagai sejarahnya. Pada bulan February 1983 Yngwie berangkat dari Swedia ke Los Angeles dengan bekal keahlian dan gaya permainan barunya.
Selanjutnya permainan Yngwie dikenal dunia dengan permainannya yang sangat cepat di intro lagu “Hot On Your Heels”. Yngwie kemudian pindah ke group band Alcatrazz, sebuah band yang bergaya “Rainbow” dan didirikan oleh penyanyi Graham Bonnett. Walaupun telah bergabung dengan Alcatrazz yang menampilkan sekian banyak solo hebat di lagu “Kree Nakoorie”, “Jet to Jet,” dan “Hiroshima Mon Amour”, Yngwie masih merasa terlalu dibatasi oleh band itu sendiri. Akhirnya Yngwie berpikir bahwa hanya album sololah yang menjadi solusi terbaik.
Album solo pertama Yngwie: Rising Force (kini dinobatkan sebagai kitab musik rock Neo-Classical) berhasil memasuki nomor 60 di tangga Billboard charts untuk musik instrumental gitar tanpa berbau komersil. Album ini juga memenangkan nominasi Grammy untuk Instrumental Rock Terbaik. Tidak lama kemudian Yngwie terpilih sebagai Gitaris Pendatang Baru Terbaik di berbagai majalah dan media, Gitaris Terbaik Tahun Itu, dan Rising Force menjadi Album Terbaik untuk tahun itu juga.

Pada 22 June 1987 mendekati ultah Yngwie yang ke-24, Yngwie mengalami kecelakaan dengan mobil Jaguarnya yang mengakibatkan dia koma hampir seminggu. Penyumbatan darah pada otak Yngwie juga menyebabkan tangan kanannya tidak berfungsi. Karena takut akan karirnya yang akan berakhir itu, Yngwie dengan susah payah mengikuti terapi untuk memulihkan kembali tangan kanannya. Setelah itu Yngwie mendapat cobaan lagi dari kematian ibunya di Swedia akibat penyakit kanker yang menghabiskan banyak biaya medical. Jika Yngwie orang lain, mungkin sudah menyerah dengan nasib seperti itu, tetapi Yngwie justru berubah dan kembali ke musiknya dengan semangat tinggi.
Setelah itu Yngwie meluncurkan album yang laris manis seperti Odyssey, Eclipse, Fire & Ice, Seventh Sign, I Can’t Wait, Magnum Opus, Inspiration, Facing the Animal, Alchemy, War To End All Wars dan akhirnya Yngwie berhasil mewujudkan cita-citanya untuk bermain bersama sebuah Orkestra penuh di salah satu album terbarunya: Concerto Suite for Electric Guitar and Orchestra in Eb minor, Op. 1 (tahun 1998).
Ketika merelease albumnya Eclipse (1990), Yngwie sempat tour dan membuat konser yang sukses di Indonesia (Jakarta, Solo, & Surabaya). Sempat pada bulan July 2001 Yngwie juga akan konser kembali di Indonesia, namun dibatalkan karena pemerintah USA & istrinya menasehati Yngwie akan keamanan politik di Indonesia. Padahal tiket Yngwie sudah sempat laku keras di Indonesia, penggemar Yngwie di Indonesia boleh kecewa. Kapan lagi Yngwie akan konser di Indonesia apabila keadaan politik Indonesia masih seperti ini?
 
Album-album berikutnya adalah Attack!! yang memuat nomor hits instrumental Baroque & Roll. Pada tahun 2003, Yngwie diajak bergabung dalam formasi G3 bersama Joe Satriani dan Steve Vai yang menelurkan 1 album dan 1 video. Setelah selesai tur bersama G3, ia merampungkan album terbarunya Unleash The Fury. Album tersebut direlease diawal taun 2005.

1/20/2011

Iron Maiden konser di Jakarta & Bali, 17 Februari 2011

Konser Iron Maiden di Jakarta Pindah Venue Ke Ancol
Impian sebagian besar fans untuk menyaksikan konser fenomenal band heavy metal legendaris dunia Iron Maiden di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta pada 17 Februari mendatang akhirnya terpaksa buyar.

Original Production selaku promotor konser tersebut dalam rilis pers di laman mereka menjelaskan, ”Karena sesuatu dan lain hal (konser) berpindah tempat ke Carnaval Beach, Ancol” dan masih tetap di tanggal yang sama. Sementara venue konser Iron Maiden di Bali pada tanggal 20 Februari tidak mengalami perubahan, tetap diselenggarakan di Lotus Pond, Garuda Wisnu Kencana.

Ketika dikonfirmasi Rolling Stone, Tommy Pratama, managing director & CEO Original Production membenarkan kabar tersebut. Ia menjelaskan, ”Kalau sudah berhubungan dengan sepak bola atau euforia bola lagi benar-benar momentum, memang perjanjiannya apapun event komersial harus moved.”

Original Production juga menampilkan surat dari pihak pengelola Stadion Utama Gelora Bung Karno yang intinya menjelaskan, ”Bahwa penggunaan Stadion Utama untuk konser Iron Maiden pada tanggal 17 Februari 2011 pada prinsipnya kami sangat mendukung dan mengijinkan, namun demikian perlu diketahui bahwa tanggal 12 s/d 20 Februari 2011 Stadion Utama Gelora Bung Karno dipakai untuk pertandingan sepak bola. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, kami dengan sangat menyesal tidak dapat memenuhi permohonan dimaksud.”

Sementara via akun Twitter (@tporiginal), pihak promotor menjelaskan bahwa Stadion Utama pada periode tersebut rencananya akan digunakan oleh PSSI untuk menyelenggarakan pertandingan sepak bola Pra-Olimpiade.

Ketika ditanya mengapa tidak sejak awal memilih Ancol sebagai venue konser tersebut, Tommy menjawab, ”Karena Gelora Bung Karno diizinkan kan (awalnya), dan Ancol sendiri memang sudah jadi alternative venue kami dan alhamdulillah mereka full support.”

Sehubungan dengan pemindahan venue konser maka diumumkan juga penyesuaian kelas dari tiket yang telah dibeli atau dijual nantinya.

"Untuk penonton yang sudah membeli tiket khususnya untuk kelas TRIBUN BAWAH, TRIBUN ATAS, VIP maupun VVIP selanjutnya dapat dialihkan ke kelas yang telah di informasikan dengan menyesuaikan harga tiket di bawah ini:
FESTIVAL A : Rp. 750.000,- (standing)
FESTIVAL B : Rp. 550.000,- (standing)
FESTIVAL C : Rp. 350.000,- (standing)

Lebih lanjut Tommy menjelaskan tentang perubahan kelas konser ini, ”Untuk di Ancol jadinya festival semua dan ditambah dengan festival C Rp 350.000 untuk mengalokasikan pembeli tribun atas dan bawah. Untuk VIP disesuaikan dengan kelas yang ada.” Informasi lebih lanjut para calon penonton dapat langsung menghubungi Original Production di 021-72790254, 7261190.

Menurutnya lagi, sejauh ini penjualan tiket konser Iron Maiden di kedua tempat ini antusiasmenya sangat baik. “Very good, terutama yang dari worldwide sudah ribuan. Mereka datang sebagai turis mancanegara karena Maiden,” jelasnya.

”Insya Allah ini memang menjadi the biggest world rock concert yang fenomenal dalam sejarah (dunia pertunjukan) di Indonesia. Untuk di Jakarta sami mawon okay juga booking-annya, sementara untuk fans worldwide bahkan banyak yang nonton di Jakarta dan Bali sekaligus. Dari Malaysia juga banyak fans yang akan nonton di kedua tempat itu,” imbuh Tommy.

sumber: www.rollingstone.co.id